Budayakan Pendidikan Moral di Sekolah
Maraknya
penggunaan teknologi pada zaman sekarang ini sangat mempengaruhi kepribadian
siswa. Memang teknologi sangat kita butuhkan. Misalnya handphone dan internet
yang kita gunakan untuk berkomunikasi. Apabila digunakan dengan benar memang
teknologi akan berdampak baik bagi kita. Namun bagaimana dengan kasus – kasus
pelajar sekarang yang menggunakan teknologi misalnya internet untuk mengakses
situs – situs yang seharusnya belum boleh dibuka? Disinilah peran pendidikan
moral yang harus ditanamkan di dalam diri pelajar. Pendidikan moral di sekolah
diberikan oleh guru yaitu guru Agama, guru Pkn dan guru Bimbingan Konseling.
Namun
bagaimana jika pelajar mengganggap pendidikan moral bukanlah pelajaran yang
penting? Bahkan memberikan cap bahwa pelajaran pendidikan moral hanyalah
sebatas pelajaran tambahan yang membosankan dan hanya nasehat – nasehat usang
yang diberikan pelajaran itu. Pelajar mengganggap hal yang paling penting
sekarang adalah penggunaan teknologi, pendidikan sains dan lain – lain. Pelajar
menjadi tidak memperdulikan akhlak dan malah lebih asyik memilih teknologi
daripada moralnya.
Penulis
mengutip pendapat Marvin Berkowitz (1998) yang mengatakan bahwa kebanyakan
pendidikan moral yang dilakukan di sekolah-sekolah tidak pernah memperhatikan
bagaimana pendidikan itu dapat berdampak terhadap perubahan perilaku. Contohnya, seorang guru
yang hanya memberikan nasehat kepada siswa – siswinya tapi tidak memberikan
contoh sikap yang bermoral. Bagaimana dengan muridnya jika gurunya tidak bisa
memberi contoh?
Dan
kalau kita melihat sekolah – sekolah zaman sekarang, pendidikan moral sering
menjadi mata pelajaran yang memiliki jam pelajaran sangat sedikit. Misalnya pelajaran
Bimbingan Konseling, di dalam seminggu pelajaran tersebut mungkin hanya 45
menit. Bagaimana dengan moral siswa jika pendidikan moral sangat sedikit
diberikan kepada siswa? Ditambah lagi faktor teknologi yang canggih seperti
yang disebut di atas makin memperparah moral pelajar.
Dari masalah – masalah diatas kita dapat melihat bahwa
pendidikan moral memanglah sangat penting dalam menyelesaikan masalah diatas.
Pendidikan moral di sekolah dapat mendidik pelajar yang menggunakan teknologi
dengan salah. Guru dapat mengajar murid – muridnya dan mendidik dengan baik,
memberikan contoh yang baik. Guru juga memberikan dampak buruk dari
penyalahgunaan teknologi. Tugas guru yang mengajar pendidikan moral juga yaitu,
memberitahu tentang iman dan takwa kepada Tuhan. Mengajarkan bahwa menggunakan
teknologi boleh, asalkan menggunakannya dalam hal yang baik. Selain itu guru
juga memotivasi para pelajar agar lebih semangat mengejar cita – cita. Hal ini
dapat membuat pelajar meninggalkan tindakannya dalam penyalahgunaan teknologi. Guru
juga mendampingi murid – muridnya sehingga pelajar merasa nyaman dan melupakan
serta serius dalam mengejar cita – citanya.
Kemudian, bagaimana dengan pelajar yang menganggap bahwa
pendidikan moral adalah pelajaran yang usang dan basi? Disinilah guru
membudayakan pendidikan moral itu. Tidak selamanya guru mengajar di dalam
kelas. Ada kalanya guru dapat membawa murid ke luar kelas untuk belajar. Agar
pelajar tidak menganggap bahwa pendidikan moral hanyalah pelajaran yang usang
dan basi, guru dapat membawa mereka ke tempat – tempat yang dapat diambil sisi
meningkatkan moral yang baik. Misalnya dengan membawa ke panti asuhan agar para
pelajar dapat bersyukur kepada Tuhan masih diberi kesempatan memiliki keluarga
yang baik. Kemudian membawa pelajar ke rumah sakit tempat pasien terserang
HIV/AIDS. Pelajar dapat melihat bahwa pergaulan bebas dapat menyebabkan
HIV/AIDS sehingga mereka dapat mengurangi penyalahgunaan teknologi. Banyak cara
yang dapat dilakukan guru agar meningkatkan dan membudayakan pendidikan moral
di sekolah.
Tidak
semua guru dapat menjadi panutan pelajar. Hal ini juga dapat mendorong pelajar
malas mempelajari pendidikan moral. Misalnya, seorang guru yang terlambat masuk ke dalam kelas. Padahal guru
seharusnya memberikan contoh yang baik
sehingga siswa – siswinya dapat meniru gurunya. Seperti pepatah yang mengatakan
“Apa yang kamu tanam, itu yang akan kamu
tuai.” Jika guru memberikan nasehat dan contoh yang baik maka siswa – siswinya
menjadi siswa – siswi yang berakhlak baik. Jadi, guru harus memberikan contoh
yang baik sehingga pelajar memiliki akhlak yang mulia. Dari contoh guru tidak
terlambat masuk kelas, pelajar juga pasti berusaha mengikuti gurunya. Karena
guru adalah panutan murid.
Kita
telah melihat betapa pentingnya pelajaran pendidikan moral di sekolah. Namun,
bagaimana jika waktu belajarnya sedikit? Tentu juga dapat mempengaruhi moral
pelajar. Sebaiknya pelajaran pendidikan moral harus lebih diperbanyak. Apalagi
pendidikan moral merupakan pendidikan yang berhubungan dengan tingkah laku
seseorang. Sekolah harus lebih membudayakan pendidikan yang satu ini. Demi
akhlak yang baik dan masa depan bagi pelajar – pelajar.
Untuk para pelajar, sebagai
generasi muda, pelajar harus meningkatkan pendidikan moralnya. Mengingat
bagaimana kondisi moral pelajar zaman sekarang. Kita boleh menggunakan
teknologi, namun gunakanlah sewajarnya. Jangan membuka hal – hal yang dilarang
agama. Meningkatkan iman kepada Tuhan akan membawa kita ke dalam hal yang baik.
Pelajaran moral di sekolah juga harus kita senangi. Karena pelajaran inilah
yang mampu mengubah perilaku kita menjadi lebih baik lagi. Kita harus
membudayakan pelajaran moral demi masa depan kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar